📢 Info Madrasah
Selamat Datang di Website MAS Al-Falah — Informasi Terbaru Prestasi, Program Unggulan, Kegiatan dan Layanan Madrasah dapat diakses melalui website ini.

Catatan Kenangan: 40 Hari Mengenang Ustadz Suwarso, M.Pd.I.

Pergi Meninggalkan Keteladanan, Bukan Sekadar Jabatan

Wafat, 14 Juli 2026 — 40 Hari Mengenang Almarhum

Ada orang yang hadir dalam hidup kita hanya untuk sementara, tetapi meninggalkan jejak yang begitu panjang. Ada pula orang yang tidak banyak berbicara, tetapi sikap dan pengabdiannya menjadi pelajaran yang terus hidup dalam ingatan.

Bagi saya, Ustadz Suwarso, M.Pd.I. adalah salah satu di antaranya.

Beliau bukan hanya guru saya. Beliau juga atasan saya di Madrasah Aliyah Al-Falah, sekaligus teman berdiskusi dalam banyak hal, terutama tentang bagaimana pendidikan di Al-Falah harus terus tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Saya mengenal beliau sebagai sosok yang tidak banyak bicara. Namun, di balik ketenangannya terdapat keteguhan yang luar biasa. Beliau adalah pribadi yang jujur, disiplin, sabar, gigih dalam pengabdian, amanah, dan sangat bertanggung jawab terhadap tugas yang dipercayakan kepadanya.

Bagi saya, beliau adalah panutan hidup dalam hal kegigihan mengabdi.

Foto bersamanya saat penerimaan SK Pendirian STAIQ al-Falah.

Jejak Pengabdian yang Panjang

Selama mengabdi di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Falah, banyak amanah yang telah beliau jalankan.

Menjelang akhir hayatnya, beliau masih dipercaya mengemban beberapa amanah penting, di antaranya:

Ra'is Am Pondok Pesantren Al-Falah

Kepala Madrasah Aliyah Al-Falah

Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Agama Islam Qamaruddin Al-Falah

Pembina Korda Pondok Pesantren Al-Falah

Sebelumnya, beliau juga pernah mengemban berbagai amanah lainnya, antara lain: Mantan Kepala Madrasah Diniyah Al-Falah, Mantan Ketua Pengurus Pondok Pesantren Al-Falah, Mantan Pengurus Alumni Pondok Pesantren Al-Falah, Serta berbagai amanah lainnya dalam perjalanan panjang pengabdiannya.

Jika hanya melihat daftar jabatan tersebut, kita mungkin melihat beliau sebagai seseorang yang telah memegang banyak posisi penting. Namun bagi saya, jabatan bukanlah hal yang paling penting dari sosok beliau. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana beliau menjalankan setiap amanah tersebut. Beliau tidak menjadikan jabatan sebagai kebanggaan, tetapi sebagai tanggung jawab. Tidak banyak berbicara tentang pengabdian, tetapi menjalankannya. Tidak banyak menuntut penghargaan, tetapi terus memberikan yang terbaik.

Keadaan sakit, Masih menerima kunjungan asesor BAN-SM

Dalam Sakit, Tanggung Jawab Tetap Dijalankan

Sekitar tiga bulan sebelum wafat, Ustadz Suwarso mengalami sakit.
Tubuhnya mulai melemah. Namun semangat pengabdiannya seolah tidak ikut melemah.
Dalam keadaan sakit, beliau masih saja ingin bertugas.
Salah satu peristiwa yang sangat menggambarkan kegigihan beliau adalah ketika ada agenda bertemu asesor akreditasi.
Kondisi beliau saat itu sebenarnya tidak memungkinkan untuk banyak melakukan aktivitas. Tetapi beliau tetap bersikukuh ingin bertemu dengan asesor.
Bagi beliau, urusan lembaga tidak boleh begitu saja ditinggalkan.
Yang lebih mengesankan bagi saya, beliau bahkan mengajak saya untuk mendampingi perjalanan tersebut.
Saya melihat sendiri bagaimana rasa tanggung jawab itu begitu kuat dalam diri beliau.
Tubuh sedang sakit, tetapi pikirannya masih tertuju pada lembaga.
Kondisi fisiknya melemah, tetapi semangat untuk menyelesaikan amanah tetap menyala.
Saat itu mungkin saya melihatnya sebagai sebuah perjalanan untuk menjalankan tugas.
Namun setelah beliau tiada, saya memandang peristiwa itu dengan cara yang berbeda.
Itu adalah salah satu pelajaran terakhir yang beliau berikan kepada saya tentang arti sebuah amanah dan pengabdian.
Bahwa tanggung jawab tidak selalu menunggu keadaan kita sempurna.
Kadang-kadang, justru dalam keadaan sulit itulah ketulusan seseorang dalam menjalankan amanah terlihat.

Foto sehari sebelum wafat.

Sehari Sebelum Beliau Pergi

Ada satu peristiwa lain yang sampai hari ini masih sangat melekat dalam ingatan saya.
Sehari sebelum beliau meninggalkan kami untuk selama-lamanya, saya duduk di dekat beliau. Saat itu beberapa teman-teman guru Al-Falah juga berada di sana.
Kondisi beliau sudah dalam keadaan sakit.
Tetapi yang membuat saya tertegun adalah apa yang beliau bicarakan.
Beliau masih berbicara tentang pendidikan.
Tentang Al-Falah.
Tentang bagaimana pendidikan harus terus berjalan.
Tentang hal-hal yang perlu dipikirkan untuk kemajuan lembaga.
Di tengah kondisi tubuh yang sedang berjuang melawan sakit, pikiran beliau masih tertuju kepada pendidikan.
Saat itu mungkin kami tidak menyadari bahwa pertemuan tersebut akan menjadi salah satu percakapan terakhir kami bersama beliau.
Kami berbicara seperti biasanya.
Berdiskusi seperti biasanya.
Mendengarkan pemikiran beliau seperti biasanya.
Tetapi ternyata, itulah salah satu kesempatan terakhir yang Allah berikan kepada kami untuk duduk bersama beliau.
Kini, setiap kali mengingat percakapan itu, saya semakin memahami satu hal:
Ustadz Suwarso benar-benar telah menjadikan pendidikan sebagai bagian dari hidupnya.
Bahkan ketika tubuhnya mulai lemah, pikirannya masih memikirkan masa depan pendidikan.


Guru, Atasan, Sekaligus Panutan

Bagi saya pribadi, kehilangan beliau bukan sekadar kehilangan seorang atasan.

Saya kehilangan seorang guru.

Saya kehilangan seorang teman berdiskusi.

Saya kehilangan seseorang yang sering menjadi tempat bertukar pikiran tentang berbagai persoalan pendidikan.

Dan lebih dari itu, saya kehilangan salah satu sosok yang menjadi panutan dalam menjalani pengabdian.

Dari beliau saya belajar bahwa menjadi seorang pendidik bukan hanya tentang menyampaikan ilmu.

Menjadi pendidik adalah tentang ketekunan, kedisiplinan, kesabaran, kejujuran, amanah, dan kesediaan untuk terus bertanggung jawab meskipun tidak selalu mudah.

Beliau mengajarkan semua itu bukan melalui banyak nasihat, tetapi melalui kehidupannya.


Tidak Banyak Bicara, Tetapi Banyak Memberi Teladan

Ada orang yang dikenang karena kata-katanya.
Ada yang dikenang karena kedudukannya.
Ada yang dikenang karena prestasinya.
Tetapi ada pula orang yang dikenang karena keteladanan hidupnya.
Bagi saya, Ustadz Suwarso termasuk yang terakhir.
Beliau tidak banyak bicara.
Tetapi kedisiplinannya berbicara.
Beliau tidak banyak mengumbar pengabdian.
Tetapi perjalanan hidupnya berbicara.
Beliau tidak meminta orang lain untuk bertanggung jawab.
Tetapi dirinya sendiri menunjukkan bagaimana sebuah amanah harus dijalankan.
Dan mungkin, itulah warisan terbesar yang beliau tinggalkan kepada kami.
Bukan jabatan.
Bukan gelar.
Bukan sekadar catatan tentang apa yang pernah beliau kerjakan.
Tetapi nilai-nilai kehidupan yang beliau contohkan.


Al-Falah Kehilangan, Tetapi Keteladanannya Tetap Hidup

Kepergian beliau tentu meninggalkan ruang kosong di lingkungan Pondok Pesantren Al-Falah.
Sosok yang selama bertahun-tahun ikut menjaga, membangun, dan memikirkan perjalanan lembaga kini telah kembali kepada Allah SWT.
Namun saya percaya, seseorang yang telah menghabiskan hidupnya untuk mengabdi tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tetap hidup dalam nilai yang diwariskannya.
Ia hidup dalam guru-guru yang pernah bekerja bersamanya.
Ia hidup dalam para santri yang pernah dididiknya.
Ia hidup dalam lembaga yang pernah diperjuangkannya.
Dan ia akan terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mendapatkan keteladanannya.
Termasuk saya.

Empat Puluh Hari Setelah Kepergianmu

Empat puluh hari telah berlalu sejak 14 Juli 2026.
Waktu berjalan, tetapi kenangan tentang beliau tidak serta-merta hilang.
Justru setelah beliau tiada, banyak hal yang dahulu mungkin terlihat biasa menjadi terasa sangat berarti.
Percakapan-percakapan kecil.
Diskusi tentang pendidikan.
Perjalanan untuk menjalankan tugas.
Keinginannya untuk tetap bertemu asesor akreditasi meskipun dalam keadaan sakit.
Ajakan beliau kepada saya untuk mendampingi perjalanan tersebut.
Kedisiplinannya.
Cara beliau menjalankan amanah.
Bahkan pertemuan terakhir sehari sebelum wafat kini menjadi kenangan yang sangat berharga.
Seandainya saat itu saya tahu bahwa itu adalah pertemuan terakhir, mungkin saya akan duduk lebih lama.
Mungkin saya akan lebih banyak mendengarkan.
Mungkin saya akan mengatakan lebih banyak terima kasih.
Namun hidup memiliki ketentuannya sendiri.

Dan kita hanya bisa menerima bahwa Allah SWT telah menetapkan waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya.

Bersama beliau saat studi komparatif ke Tebuireng

Terima Kasih, Ustadz

Ustadz Suwarso...
Terima kasih telah menjadi guru bagi saya.
Terima kasih telah menjadi atasan yang memberi teladan.
Terima kasih telah menjadi teman berdiskusi.
Terima kasih telah menunjukkan kepada kami arti sebuah pengabdian.
Terima kasih telah mengajarkan bahwa amanah harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Dan terima kasih karena telah meninggalkan sebuah pelajaran yang tidak akan mudah saya lupakan:
Bahwa pengabdian yang tulus tidak berhenti hanya karena tubuh mulai lemah.
Saya mungkin tidak akan mampu membalas semua kebaikan dan ilmu yang telah beliau berikan.
Tetapi saya berharap, apa yang pernah beliau ajarkan dapat terus saya lanjutkan dalam pengabdian saya di Al-Falah.
Jika dahulu kita sering berdiskusi tentang bagaimana pendidikan Al-Falah harus maju, maka setelah kepergian beliau, tugas kita bukan berhenti membicarakannya.
Tugas kita adalah melanjutkan perjuangan itu.


Foto Bersamanya sesaat sebelum serah terima SK STAIQ Al-Falah

Selamat Jalan, Ustadz Suwarso

Empat puluh hari telah berlalu.
Namun bagi kami, engkau tidak sekadar menjadi bagian dari masa lalu.
Engkau telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan Al-Falah.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafan beliau, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan kuburnya, memberikan cahaya dan rahmat-Nya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan.
Dan semoga kami yang masih diberi kesempatan untuk hidup dapat melanjutkan kebaikan-kebaikan yang telah beliau mulai.
Selamat jalan, Ustadz Suwarso.
Selamat jalan, guru kami.
Selamat jalan, pejuang pendidikan Al-Falah.
Jabatan boleh berakhir..
Usia boleh berakhir.
Pertemuan boleh berakhir.
Tetapi keteladanan tidak akan pernah berakhir.
Karena orang baik mungkin telah pergi,
tetapi kebaikannya akan terus tinggal.
Al-Fatihah...
foto: Perintah beliau untuk mewakili karena keadaan sakit

---------------------------------

By: Moh. Yasin

(Murid Beliau)

Posting Komentar

0 Komentar

Galeri Madrasah

Yuk Bagikan